Ternyata, orang-orang jahiliyah masih ada di zaman modern ini. Mengagetkan? Atau sebenarnya… kita sering tidak sadar sedang mengulang pola mereka? 🙂 Dalam salah satu hadits, Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme ('ashabiyyah), yang berperang karena fanatisme, dan yang mati karena fanatisme." Hadits ini diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dan juga terdapat dalam Musnad Ahmad. Namun konteks sejarahnya lebih kuat lagi. Dalam riwayat shahih di Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, terjadi perselisihan kecil antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar saat Perang Bani Musthaliq. Keduanya Muslim. Keduanya sahabat Nabi ﷺ. Namun ketika emosi memuncak, mereka berteriak: "Wahai kaum Anshar!" "Wahai kaum Muhajirin!" Seruan identitas. Rasulullah ﷺ langsung menegur: "Apakah dengan seruan jahiliyah sementara aku masih berada di tengah kalian?" "Tinggalkan itu, karena itu busuk." Perhatikan satu hal ...
Keutamaan Berdakwah dengan Hikmah dan Kelembutan Oleh : Dimas Fajri Adha, SE,. Menjelang Ramadhan, sering kali kita berbicara tentang persiapan hati. Namun ada satu hal yang tak kalah penting: bagaimana cara kita berdakwah dan berinteraksi dengan sesama. Allah ﷻ berfirman: " Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik." (QS. An-Nahl: 125) Ayat ini bukan sekadar metode, tetapi prinsip. Dakwah tidak dibangun di atas emosi, apalagi amarah. Ia berdiri di atas hikmah — kebijaksanaan dalam memahami situasi, karakter manusia, dan waktu yang tepat. Allah juga mengingatkan Nabi ﷺ: " Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka menjauh dari sekitarmu ." (QS. Ali 'Imran: 159) Jika Rasulullah ﷺ saja diperintahkan untuk lembut kepada para sahabat, maka bagaimana dengan kita? Keutamaan Dakwah dengan Kelembutan Mendatangkan cinta Allah Nabi ﷺ bersabda...